Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Showing posts with label Militer. Show all posts
Showing posts with label Militer. Show all posts

Misi 100 Menit Pilot Kuba Membelot Ke Amerika




Memprotes dalam pemilihan dalam rapat itu wajar dilakukan untuk menarik kesimpulan dan rapat yang telah diputuskan. Beda halnya jika melakukan pemilihan dalam suatu diskusi dan masa depan yang akan dituju.

Kali ini ada kisah dan sejarah yang sangat penting ketika pembelotan seorang personel militer sebuah negara ke negara seterunya itu selalu menarik untuk dibicarakan.

Apalagi jika sang pembelot kemudian harus kembali ke negaranya demi menjemput anak dan istrinya. Itulah kisah Mayor Orestes Lorenzo Perez, pilot AU Kuba yang membelot ke Amerika Serikat.

Pembelotan Perez terjadi pada 20 Maret 1991 ketika sebuah pesawat jet MiG-23BN milik AU Kuba yang diterbangkan Perez muncul di wilayah pangkan udara AL Key West, Florida.

Seperti dikutip harian The New York Times, Perez membelot saat dia tengah dalam sebuah misi latihan bersama AU Kuba saat itu.

Setelah menyerahkan diri kepada aparat militer AS, singkat cerita Mayor Perez mendapatkan suaka politik dari pemerintah AS.

Sayangnya, istrinya Maria Victoria dan kedua anaknya Reyniel dan Alejandro, saat itu masih berusia 11 dan enam tahun, dicegah pemerintah Kuba menyusul Perez ke AS.

Dalam perjuangan mendapatkan kembali keluarganya, Perez mendapatkan bantuan dari Yayasan Valladares, sebuah organisasi yang berbasis di Virginia yang fokus menekan pemerintah Kuba dalam isu-isu HAM.

Dengan bantuan yayasan ini, Perez melakukan banyak hal untuk menekan pemerintah Kuba, memberi kesaksian di komisi HAM PBB, hingga menggelar aksi mogok makan di Spanyol.

Semua dia lakukan agar pemerintahan Fidel Castro mengizinkan istri dan kedua anaknya meninggalkan Kuba dan berkumpul bersama dia.

Bahkan aksi Mayor Perez ini menarik perhatian Presiden George Bush yang bahkan mendesak Presiden Fidel Castro untuk mengizinkan keluarga sang pilot beremigrasi ke Amerika.

Sayangnya semua upaya itu gagal meluluhkan hati pemerintah Kuba. Alhasil, Perez kemudian berencana menjemput keluarganya meski risikonya sangat besar.

Dia sempat berpikir untuk menggunakan helikopter yang akan didaratkannya di dekat kediaman istrinya di Havana. Namun, akhirnya rencana itu dibatalkan karena ongkosnya terlalu mahal.

Masalah yang dihadapi Perez ini kemudian sampai ke telinga Elena Diaz-Versin Amos, seorang janda kaya kelahiran Kuba.

Mendengar kisah Perez itu, dia kemudian menyumbangkan uang tunai 30.000 dolar AS atau sekarang setara dengan Rp 400 juta ke Yayasan Valladares.

Uang itu kemudian digunakan untuk membeli pesawat Cessna bermesin ganda produksi 1961 yang akan digunakan Perez menjempun anak dan istrinya.

Direktur eksekutif Yayasan Valladares Kristina Arriaga mengatakan, meski berpengalaman menjadi pilot pesawat jet, Perez tetap harus berlatih menggunakan pesawat sipil itu.

Dia melakukan uji terbang di Georgia, sebelum terbang bersama seorang kopilot ke Marathon Key, 160 kilometer sebelah barat daya Miami.


Misi 100 menit


Pilot AU Kuba, Mayor Orestes Lorenzo Perez (pic:internasional.kompas.com)
Sebelum terbang, Perez seorang pembawa pesan dari Meksiko ke Kuba. Dia membawa surat untuk sang istri agar dia menyewa sebuah mobil dan membawa kedua putra mereka ke sebuah lokasi.

Lokasi penjemputan yang dipilih adalah sebuah jembatan terkenal di dekat ruas jalan pesisir timur Kuba di provinsi Matanzas.

Setelah mendarat di Marathon Key, pada 19 Desember 1992, sang kopilot tinggal di kepulauan tersebut dan Perez terbang sendiri ke arah selatan menuju Kuba.

Demi menghindari deteksi radar militer Kuba, Perez mematikan semua peralatan elektronik termasuk radio.

Dia juga terbang sangat rendah, hanya sekitar tiga meter dari permukaan laut, ketika sudah memasuki wilayah udara Kuba.

Sekitar pukul 17.43, Perez akhirnya sukses mendarat di jalan raya yang menhubungkan Matanzas ke Varadero.

Mendaratnya sebuah Cessna di jalanan itu tentu mengejutkan, bahkan seorang pengemudi truk nyaris menabrak pesawat kecil itu.

Dengan secepat mungkin, Perez menyuruh istri dan kedua anaknya naik ke dalam pesawat berkursi empat itu.

Saat itu, kedua putranya ingin memeluk Perez, tetapi karena waktu yang singkat sang pilot pembelot harus segera mengudara sebelum terdeteksi aparat keamanan Kuba.

Perez mengenang, setelah pesawat Cessna itu mengudara barulah istri dan kedua putranya merasa lega dan mereka menangis bahagia.

Perez terbang mengikuti rute yang sama dan mendarat kembali di Marathon Key. Misi nekat Perez itu sukses besar dan hanya membutuhkan waktu sekitar 100 menit.

Tak lama setelah pendaratan itu, Perez dan keluarganya bertemu dengan petugas FBI serta departemen imigrasi dan naturalisasi di Miami.

Setelah dilakukan verifikasi ketat, pemerintah AS akhirnya yakin bahwa ketiga orang yang dibawa Perez dari Kuba memang adalah anak dan istrinya.

Kini Perez dan keluarganya menetap di kota Springfield, Virginia. Dia bekerja menjadi pilot di sebuah maskapai penerbangan swasta, sementara istrinya meneruskan profesi sebagai dokter gigi.





Sumber | pakaide

PESAWAT MILITER TUA YANG MASIH AKTIF MILIK INDONESIA

DAFTAR PESAWAT MILITER TUA YANG MASIH AKTIF MILIK INDONESIA

Hercules C130


Indonesia menerima 10 pesawat C-130 dari pemerintah Amerika Serikat sebagai penukar tawanan pilot CIA Allen Pope yang terlibat membantu pemberontakan Permesta di Sulawesi pada tahun 1958.

Pada tahun 1975, Indonesia menerima 3 C-130B. Pada tahun 1980-an, di bawah program untuk meningkatkan kemampuan angkatan udara Indonesia, 3 buah C-130H, 7 C-130HS (long body), 1 C-130 MP (patroli maritim), 1 L-100-30 (untuk keperluan sipil), dan enam L-100-30s yang dioperasikan oleh PT Merpati dan Pelita Air untuk keperluan transmigrasi. TNI AU juga mengoperasikan 2 KC-130 (versi air refuelling C-130) untuk keperluan pengisian bahan bakar di udara (sampai hari ini masih beroperasi).


AS-202 Bravo


Pesawat AS-202 Bravo merupakan pesawat buatan swiss tahun 1969.


F-5 Tiger


Pesawat tempur buatan tahun 1978 ini mulanya berjumlah 12 unit. Namun seiring berjalannya waktu dan usia yang bisa dibilang sudah renta, 10 unit di antaranya sudah dipensiunkan. Tersisa 2 unit lagi yang menunggu untuk diistirahatkan di dalam hanggar. F-5 Tiger adalah pesawat tempur supersonik generasi ketiga yang berasal dari era perang dingin dan sudah pernah menjalani berbagai misi strategis.


F-16 Fighting Falcon


Mulanya TNI AU memiliki 12 unit pesawat F-16 yang dibeli di tahun 1989. Namun sekarang pesawat ini hanya tersisa 10 unit karena 2 sudah hancur akibat kecelakaan yang tidak ada kaitannya dengan pertempuran.


Hawk MK-53


Dibeli pada tahun 1978, pesawat buatan Inggris ini dimiliki oleh Skuadron Udara 15. Sebanyak 20 unit Hawk MK-53 didatangkan pertama kali pada 29 September 1980. Selanjutnya didatangkan pula 8 unit Hawk MK-109 dan 32 unit Hawk MK-209 pada tahun 1998. Ini membuat Hawk menjadi pesawat tempur Indonesia dengan jumlah terbanyak. Kini Hawk MK-53 hanya tersisa 2 unit setelah 8 lainnya hancur pada berbagai peristiwa kecelakaan.



 

Populer Blog

Berawal Dari Ide


Populer Blog

Ayo Pakai Ide

Space Iklan Bebas Tentukan Posisi Pilihan ALT/TEXT GAMBAR ALT/TEXT GAMBAR

Populer Blog

Untuk Merubah Pribadi Anda